Rabu, 06 Maret 2013

Biografi Ibnu Sina

Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.

Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.


Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan demikian;

“Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya... Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu.” Ibnu Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya.



Kesibukannya di pentas politik di istana Mansur, raja dinasti Samani, juga kedudukannya sebagai menteri di pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah Deilami dan konflik politik yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara kelompok bangsawan, tidak mengurangi aktivitas keilmuan Ibnu Sina. Bahkan safari panjangnya ke berbagai penjuru dan penahanannya selama beberapa bulan di penjara Tajul Muk, penguasa Hamedan, tak menghalangi beliau untuk melahirkan ratusan jilid karya ilmiah dan risalah.



Ketika berada di istana dan hidup tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang dibeni nama kitab Al-Syifa’. Namun ketika harus bepergian beliau menulis buku-buku kecil yang disebut dengan risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, atau menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.



Di antara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, kitab al-Syifa’ dalam filsafat dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran dikenal sepanjang massa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.



Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi,

kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.



Ibnu juga memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu Sina memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia.



Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab. Pertama menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa. Kedua karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini adalah penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi.”



Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya -sehingga dalam banyak hal mengikuti teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan- dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Menurutnya, seseorang baru diakui sebagai ilmuan, jika ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat dalam mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.



Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama adalah periode ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.



Berkat telaah dan studi filsafat yang dilakukan para filosof sebelumnya semisal Al-Kindi dan Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya.



Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.



Ibnu Sina wafat pada tahun 428 hijriyah pada usia 58 tahun. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia (1942 - 1945) 02-01-2013 14:54:39, pada Sejarah Indonesia Baru

1. Masuknya Jepang ke Wilayah Indonesia
Sebagai negara fasis-militerisme di Asia, Jepang sangat kuat, sehingga meresahkan kaum pergerakan nasional di Indonesia. Dengan pecahnya Perang Dunia II, Jepang terjun dalam kancah peperangan itu. Di samping itu, terdapat dugaan bahwa suatu saat akan terjadi peperangan di Lautan Pasifik. Hal ini didasarkan pada suatu analisis politik. Adapun sikap pergerakan politik bangsa Indonesia dengan tegas menentang dan menolak bahwa fasisme sedang mengancam dari arah utara. Sikap ini dinyatakan dengan jelas oleh Gabungan Politik Indonesia (GAPI).
Sementara itu di Jawa muncul Ramalan Joyoboyo yang mengatakan bahwa pada suatu saat pulau Jawa akan dijajah oleh bangsa kulit kuning, tetapi umur penjajahannya hanya "seumur jagung". Setelah penjajahan bangsa kulit kuning itu lenyap akhirnya Indonesia merdeka. Ramalan yang sudah dipcrcaya oleh rakyat ini tidak disia-siakan oleh Jepang, bahkan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sehingga kedatangan Jepang ke Indonesia dianggap sebagai sesuatu hal yang wajar saja.
Pada tanggal 8 Desember 1941 pecah perang di Lautan Pasifik yang melibatkan Jepang. Melihat keadaan yang semakin gawat di Asia, maka penjajah Belanda harus dapat menentukan sikap dalam menghadapi bahaya
kuning dari Jepang. Sikap tersebut dipertegas oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jhr. Mr. A.W.L. Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer dengan mengumumkan perang melawan Jepang. Hindia Belanda termasuk ke dalam Front ABCD (Amerika Serikat, Brittania/Inggris, Cina, Dutch/Belanda) dengan Jenderal Wavel (dari Inggris) sebagai Panglima Tertinggi yang berkedudukan di Bandung.
Angkatan perang Jepang begitu kuat, sehingga Hindia Belanda yang merupakan benteng kebanggaan Inggris di daerah Asia Tenggara akhirnya jatuh ke tangan pasukan Jepang. Peperangan yang dilakukan oleh Jepang di Asia Tenggara dan di Lautan Fasifik ini
diberi nama Perang Asia Timur Raya atau Perang Pasifik. Dalam waktu yang sangat singkat, Jepang telah dapat menguasai daerah Asia Tenggara seperti Indochina, Muangthai, Birma (Myanmar), Malaysia, Filipina, dan In­donesia. Jatuhnya Singapura ke tangan Jepang pada tanggal 15 Pebruari 1941, yaitu dengan ditenggelamkannya kapal induk Inggris yang bernama Prince of Wales dan HMS Repulse, sangat mengguncangkan pertahanan Sekutu di Asia. Begitu pula satu persatu komandan Sekutu meninggalkan Indone­sia, sampai terdesaknya Belanda dan jatuhnya Indonesia ke tangan pasukan Jepang. Namun sisa-sisa pasukan sekutu di bawah pimpinan Karel Door­man (Belanda) dapat mengadakan perlawanan dengan pertempuran di Laut Jawa, walaupun pada akhirnya dapat ditundukkan oleh Jepang.
Secara kronologis serangan-serangan pasukan Jepang di Indonesia adalah sebagai berikut: diawali dengan menduduki Tarakan (10 Januari 1942), kemu-dian.Minahasa, Sulawesi, Balikpapan, dan Arnbon. Kemudian pada bulan Pebruari 1942 pasukan Jepang menduduki Pontianak, Makasar, Banjarmasin, Palembang, dan Bali.
Pendudukan terhadap Palembang lebih dulu oleh Jepang mempunyai arti yang sangat penting dan strategis, yaitu untuk memisahkan antara Batavia yang menjadi pusat kedudukan Belanda di Indonesia dengan Singapura sebagai pusat kedudukan Inggris. Kemudian pasukan Jepang melakukan serangan ke Jawa dengan mendarat di daerah Banten, Indramayu, Kragan (antara Rembang dan Tuban). Selanjutnya menyerang pusat kekuasaan Belan­da di Batavia (5 Maret 1942), Bandung (8 Maret 1942) dan akhirnya pasukan Belanda di Jawa menyerah kepada Panglima Bala Tentara Jepang Imamura di Kalijati (Subang, 8 Maret 1942). Dengan demikian, seluruh wilayah Indo­nesia telah menjadi bagian dari kekuasaan penjajahan Jepang.
 2. Penjajah Jepang di Indonesia
Bala Tentara Nippon adalah sebutan resmi pemerintahan militer pada masa pemerintahan Jepang. Menurut UUD No. 1 (7 Maret 1942), Pembesar Bala Tentara Nippon memegang kekuasaan militer dan segala 'kekuasaan yang dulu dipegang oleh Gubernur Jenderal (pada masa kekuasaan Belanda).
Dalam pelaksanaan sistem pemerintahan ini, kekuasaan atas wilayah Indonesia dipegang oleh dua angkatan perang yaitu angkatan darat (Rikugun) dan angkatan laut (Kaigun). Masing-masing angkatan mempunyai wilayah kekuasaan. Dalam hal ini In­donesia dibagi menjadi tiga wilayah kekuasaan yaitu:
  1. Daerah Jawa dan Madura dengan pusatnya Batavia berada di bawah kekuasaan Rikugun.
  2. Daerah Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu dengan pusatnya Singapura berada di bawah kekuasaan Rikugun. Daera Sumatera dipisahkan pada tahun 1943, tapi masih berada di bawah kekuasaan Rikugun.
  3. Daerah Kalimantan, Sulawesi, Nusatenggara, Maluku, Irian berada di bawah kekuasaan Kaigun.

3. Organisasi Bentukan Jepang
Pasukan Jepang selalu berusaha untuk dapat memikat hati rakyat Indonesia. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bangsa Indonesia memberi bantuan kepada pasukan Jepang. Untuk menarik simpati bangsa Indonesia maka dibentuklah orgunisasi resmi seperti Gerakan Tiga A, Putera, dan PETA.
Gerakan Tiga A, yaitu Nippon Pelindung Asia, Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia. Gerakan ini dipimpin oleh Syamsuddin SH. Namun dalam perkembangan selanjutnya gerakan ini tidak dapat menarik simpati rakyat, sehingga pada tahun 1943 Gerakan Tiga A dibubarkan dan diganti dengan Putera.
Pusat Tenaga Rakyat (Putera) Organisasi ini dibentuk pada tahun 1943 di bawah pimpinan "Empat Serangkai", yaitu Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kiyai Haji Mas Mansyur. Gerakan Putera ini pun diharapkan dapat menarik perhatian bangsa Indonesia agar membantu pasukan Jepang dalam setiap peperangan yang dilakukannya. Akan tetapi gerakan Putera yang merupakan bentukan Jepang ini ternyata menjadi bume-rang bagi Jepang. Hal ini disebabkan oleh anggota-anggota dari Putera yang memiliki sifat nasionalisme yang tinggi.
Propaganda anti-Sekutu yang selalu didengung-dengungkan oleh pasukan Jepang kepada bangsa Indonesia ternyata tidak membawa hasil seperti yang diinginkan. Propaganda anti Sekutu itu sama halnya dengan anti imperialisme. Padahal Jepang termasuk negara imperialisme, maka secara tidak langsung juga anti terhadap kehadiran Jepang di bumi Indonesia. Di pihak lain, ada segi positif selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, seperti berlangsungnya proses Indonesianisasi dalam banyak hal, di antaranya bahasa Indonesia dijadikan bahasa resmi, nama-nama di- indonesiakan, kedudukan seperti pegawai tinggi sudah dapat dijabat oleh orang-orang Indonesia dan sebagainya.
Pembela Tanah Air (PETA) PETA merupakan organisasi bentukan Jepang dengan keanggotaannya terdiri atas pemuda-pemuda Indonesia. Dalam organisasi PETA ini para pemuda bangsa Indonesia dididik atau dilatih kemiliteran oleh pasukan Jepang. Pemuda-pemuda inilah yang menjadi tiang utama perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara
Indonesia.
Tujuan awalnya pembentukan organisasi PETA ini adalah untuk memenuhi kepentingan peperangan Jepang di Lautan Pasifik. Dalam perkembangan berikutnya, ternyata PETA justru sangat besar manfaatnya bagi bangsa Indone­sia untuk meraih kemerdekaan melalui perjuangan fisik. Misalnya, Jenderal Sudirman dan Jenderal A.H. Nasution adalah dua orang tokoh militer Indonesia yang pernah menjadi pemimpin pasukan PETA pada zaman Jepang. Namun karena PETA terlalu bersifat nasional dan dianggap sangat membahayakan kedudukan Jepang atas wilayah In­donesia, maka pada tahun 1944 PETA dibubarkan. Berikut-nya Jepang mendirikan organisasi lainnya yang bernama Perhimpunan Kebaktian Rakyat yang lebih terkenal dengan nama Jawa Hokokai (1944). Kepemimpinan organisasi ini berada di bawah Komando Militer Jepang.
 Golongan-golongan
Beberapa golongan yang terorganisir rapi dan menjalin hubungan rahasia dengan Bung Karno dan Bung Hatta. Golongan-golongan itu di antaranya:
a. Golongan Amir Syarifuddin;
Amir Syarifuddin adalah seorang tokoh yang sangat anti fasisme. Hal ini sudah diketahui oleh Jepang, sehingga pada tahun 1943 ia ditangkap dan diputuskan untuk menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Namun, atas perjuangan diplomasi Bung Karno terhadap para pemimpin Jepang, Amir Syari­fuddin tidak jadi dijatuhi hukuman mati, melainkan hukuman seumur hidup.
b. Golongan Sutan Syahrir;
Golongan ini mendapatkan dukungan dari kaum terpelajar dari berbagai kota yang ada di Indonesia. Cabang-cabang yang telah dimiliki oleh golongan Sutan Syahrir ini seperti di Jakarta, Garut, Cirebon, Surabaya dan lain sebagainya.
c. Golongan Sukarni; Golongan ini mempunyai peranan yang sangat besar menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pengikut golongan ini seperti Adam Malik, Pandu Kerta Wiguna, Khairul Saleh, Maruto Nitimiharjo.
d. Golongan Kaigun; Golongan ini dipimpin oleh Ahmad Subardjo dengan anggota-anggotanya terdiri atas A.A. Maramis, SH., Dr. Samsi, Dr. Buntaran Gatot, SH., dan lain-lain. Golongan ini juga mendirikan asrama yang bernama Asrama Indonesia Merdeka dengan ketuanya Wikana. Para pengajarnya antara lain Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir dan lain-lain.

4. Perlawanan Rakyat Terhadap Jepang
        Buruknya kehidupan rakyat mendorong timbulnya perlawanan-perlawanan rakyat di beberapa tempat seperti:
1.  Pada awal pendudukan Jepang di Aceh tahun 1942 terjadi pemberontakan di Cot Plieng, Lhok Seumawe di bawah pimpinan Tengku Abdul Jalil. Pemberontakan ini dapat dipadamkan, dan dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1944 muncul lagi pemberontakan di Meureu di bawah pim­pinan Teuku Hamid yang juga dapat dipadamkan oleh pasukan Jepang.
 2.  Karang Ampel, Sindang (Kabupaten Indramayu) tahun 1943 terjadi perlawanan rakyat di daerah itu kepada Jepang. Perlawanan ini dipimpin oleh Haji Madriyan dan kawan-kawannya, namun perlawanan ini berhasil ditindas oleh Jepang dengan sangat kejamnya.
3.  Sukamanah (Kabupaten Tasikmalaya), tahun 1943 terjadi perlawanan rakyat di daerah itu kepada Jepang. Perlawanan ini dipimpin oleh Haji Zaenal Mustafa. Dalam perlawanan ini Zaenal Mustafa berhasil mem-bunuh kaki-tangan Jepang. Dengan kenyataan seperti ini, Jepang melaku-kan pembalasan yang luar biasa dan melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat.
4.  Blitar, pada tanggal 14 Pebruari 1945 terjadi pemberontakan PETA di bawah pimpinan Supriyadi (putra Bupati Blitar). Dalam memimpin pemberontakan ini Supriyadi tidak sendirian dan dibantu oleh teman-temannya seperti dr. Ismail, Mudari, dan Suwondo. Pada pemberontakan itu, orang-orang Jepang yang ada di Blitar dibinasakan. Pemberontakan heroik ini benar-benar mengejutkan Jepang, terlebih lagi pada saat itu Jepang terus menerus mengalami kekalahan di dalam Perang Asia Timur Raya dan Perang Pasifik. Kemudian Jepang mengepung kedudukan Supri­yadi, namun pasukan Supriyadi tetap mengadakan aksinya. Jepang tidak kehilangan akal, ia melakukan suatu tipu muslihat dengan menyerukan agar para pemberontak menyerah saja dan akan dijamin keselamatannya serta akan dipenuhi segala tuntutannya. Tipuan Jepang tersebut temyata berhasil dan akibatnya banyak anggota PETA yang menyerah. Pasukan PETA yang menyerah tidak luput dari hukuman Jepang dan beberapa orang dijatuhi hukuman mati seperti Ismail dan kawan-kawannya. Di samping, itu ada pula yang meninggal karena siksaan Jepang.
Secara umum dapat dikatakan bahwa pendudukan Jepang di bumi Indo­nesia tidak dapat diterima. Jepang juga sempat mengadakan pembunuhan secara besar-besaran terhadap masyarakat dari lapisan terpelajar di daerah Kalimantan Barat. Pada daerah ini tidak kurang dari 20.000 orang yang menjadi korban keganasan pasukan Jepang. Hanya sebagian kecil saja yang dapat menyelamatkan diri dan lari ke Pulau Jawa. Setelah kekalahan-kekalahan yang dialami oleh Jepang pada setiap peperangannya dalam Perang Pasifik, akhirnya pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu.
 5. Dampak Pendudukan Jepang bagi Bangsa Indonesia
Bidang Politik. Sejak masuknya kekuasaan Jepang di Indonesia, organisasi-organisasi politik tidak dapat berkembang lagi. Bahkan pemerintah pen­dudukan Jepang menghapuskan segala bentuk kegiatan organisasi-organisasi, baik yang bersifat politik maupun yang bersifat sosial, ekonomi, dan agama. Organisasi-organisasi itu dihapuskan dan diganti dengan organisasi buatan )epang, sehingga kehidupan politik pada masa itu diatur oleh pemerintah Jepang, walaupun masih terdapat beberapa organisasi politik yang terus berjuang menentang pendudukan Jepang di Indonesia.
Bidang ekonomi. Pendudukan bangsa Jepang atas wilayah Indonesia sebagai negara imperialis, tidak jauh berbeda dengan negara-negara imperialisme lainnya. Kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia berlatar belakang masalah ekonomi, yaitu mencari daerah-daerah sebagai penghasil bahan mentah dan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan industrinya dan mencari tempat pemasaran untuk hasil-hasil industrinya. Sehingga aktivitas perekonomian bangsa Indonesia pada zaman Jepang sepenuhnya dipegang oleh pemerintah Jepang.
Bidang pendidikan Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, kehidupan pendidikan berkembang pesat dibandingkan dengan pendudukan Hindia Belanda. Pemerintah pendudukan Jepang memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk mengikuti pendidikan pada sekolah-sekolah yang dibangun oleh pemerintah. Di samping itu, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa perantara pada sekolah-sekolah serta penggunaan nama-nama yang diindonesiakan. Padahal tujuan Jepang mengembangkan pendidikan yang luas pada bangsa Indonesia adalah untuk menarik simpati dan mendapatkan bantuan dari rakyat Indonesia dalam menghadapi lawan-lawannya pada Perang Pasifik.
Bidang kebudayaan  Jepang sebagai negara fasis selalu berusaha untuk menanamkan kebudayaannya. Salah satu cara Jepang adalah kebiasaan menghormat ke arah matahari terbit. Cara menghormat seperti itu merupakan salah satu tradisi Jepang untuk menghormati kaisarnya yang dianggap keturunan Dewa Matahari. Pengaruh Jepang di bidang kebudayaan lebih banyak dalam lagu-lagu, film, drama yang seringkali dipakai untuk propa­ganda. Banyak lagu Indonesia diangkat dari lagu Jepang yang populer pada jaman Jepang. Iwa Kusuma Sumantri dari buku "Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah" menulis "kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan yang sangat merintangi kemajuan kita, mulai berkurang. Bangsa kita yang telah bertahun-tahun digembleng oleh penjajah Belanda untuk selalu 'nun inggih' kini telah berbalik menjadi pribadi yang berkeyakinan tinggi, sadar akan harga diri dan kekuatannya. Juga cara-cara menangkap ikan, bertani, dan lain-lain telah mengalami pembaharuan-pembaharuan berkat didikan yang diberikan Jepang kepada bangsa Indonesia, walaupun bangsa Indonesia pada waktu itu tidak secara sadar menginsafinya. Untuk anak-anak sekolah diberikan latihan-latihan olahraga yang dinamai Taiso, sangat baik untuk kesehatan mereka itu. Saya kira untuk kebiasaan sehari-hari yang tertentu (misalnya senin) bagi anak-anak sekolah maupun untuk para pegawai atau buruh untuk menghormati bendera kita (merah putih) serta pula menyanyi-kan lagu kebangsaan atau lagu-lagu nasional merupakan kebiasaaan yang diwariskan Jepang kepada bangsa Indonesia.
Bidang sosial Selama masa pendudukan Jepang kehidupan sosial masyarakat sangat memprihatinkan. Penderitaan rakyat semakin bertambah, karena sega-la kegiatan rakyat dicurahkan untuk memenuhi kebutuhan perang Jepang dalam menghadapi musuh-musuhnya. Terlebih lagi rakyat dijadikan romusha (kerja paksa). Sehingga banyak jatuh korban akibat kelaparan dan penyakit.
Bidang birokrasi. Kekuasaan Jepang atas wilayah Indonesia dipegang oleh kalangan militer, yaitu dari angkatan darat (rikugun) dan angkatan laut (kaigun). Sistem pemerintahan atas wilayah diatur berdasarkan aturan militer. Dengan hilangnya orang Belanda di pemerintahan, maka orang Indonesia mendapat kesempatan untuk menduduki jabatan yang lebih penting yang sebelumnya hanya bisa dipegang oleh orang Belanda. Termasuk jabatan gubernur dan walikota di beberapa tempat, tapi pelaksanaannya masih di bawah pengawasan Militer Jepang. Pengalaman penerapan birokrasi di Jawa dan Sumatera lebih banyak daripada di tempat-tempat lain. Namun, penerapan birokrasi di daerah penguasaan Angkatan Laut Jepang agak buruk.
Bidang militer Kekuasaan Jepang atas wilayah Indonesia memiliki arti penting, khususnya dalam bidang militer. Para pemuda bangsa Indonesia diberikan pendidi-kan militer melalui organisasi PETA. Pemuda-pemuda yang tergabung dalam PETA inilah yang nantinya menjadi inti kekuatan dan penggerak perjuangan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaannya.
Penggunaan Bahasa Indonesia. Berdasarkan pendapat Prof. Dr. A. Teeuw (ahli bahasa Indonesia berkebangsaan Belanda) menya-takan bahwa tahun 1942 merupakan tahun bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada waktu itu, bahasa Belanda dilarang penggunaannya dan digantikan dengan penggunaan bahasa Indonesia. Bahkan sejak awal tahun 1943 seluruh tulisan yang berbahasa Belanda dihapuskan dan harus diganti dengan tulisan berbahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai bahasa pergaulan sehari-hari, tetapi telah diangkat menjadi bahasa resmi pada instansi-instansi pemerintah-an atau pada lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah tinggi. Bahasa Indonesia juga dijadikan sebagai bahasa penulisan yang tertuang pada hasil-hasil karya sastra bangsa Indonesia. Sastrawan-sastrawan terkenal pada masa itu seperti Armijn Pane dengan karyanya yang terkenal berjudul Kami Perempuan (1943), Djiiiak-djinak Merpati, Hantu Perempuan (1944), Saran^ Tidak Berharga (1945) dan sebagainya. 1'i'ngarang-pengarang lainnya seperti Abu llanifah yang memakai nama samaran El Hakim dengan karya dramanya berjudul Taufan di atas Asia, Dewi Reni, dan Insan Kamil. Pada masa pendudukan Jepang, banyak karya seniman Indonesia yang hanya diterbitkan melalui surat kabar atau majalah dan setelah perang selesai baru diterbitkan sebagai buku.
Sementara itu juga terdapat penyair terkenal pada zaman pendudukan Jepang seperti Chairil Anwar yang kemudian mendapat gelar tokoh Angkatan 45. Karya-karya Chairil Anwar menjadi lebih terkenal karena karyanya itu muncul pada awal revolusi Indonesia, di antaranya yang ber­judul Aku, Karawang-Bekasi dan sebagainya.
Dengan demikian, pemerintah pen­dudukan Jepang telah memberikan kebebasan kepada bangsa Indonesia untuk meng-gunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, bahasa komunikasi, bahasa penulisan dan sebagainya.

Pendidikan Islam Pada Masa Orde Baru

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Bangsa Indonesia merdeka setelah proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Kemerdekaan ialah terbebasnya suatu bangsa dari belenggu penjajahan. Bangsa yang sudah merdeka dapat leluasa mengatur laju bangsa dan pemerintahan untuk mencapai tujuannya. Benarkah demikian?
Kemerdekaan tidak sepenuhnya menyelesaikan berbagai persoalan negara. Kemerdekaan politik sesudah masa penjajahan oleh pemerintah Jepang dan Belanda itu lebih mudah dicapai dibandingkan dengan rekonstruksi kultural masyarakat dan renovasi system pendidikan kita, khususnya pendidikan Islam.
Seiring dengan perkembangan zaman, persoalan yang dihadapi pun semakin bertambah seperti sistem pendidikan yang sesuai dengan tujuan, visi dan misi negara itu. Masuknya pemikiran-pemikiran barat yang secara tidak langsung meracuni pemikiran-pemikiran Islam dan berbagai krisis yang melanda negeri ini menjadi bagian dari polemik dunia pendidikan khususnya pendidikan Islam saat ini
B. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari pembahasan ini ialah untuk memenuhi tugas yang dipercayakanoleh dosen pembimbing kepada kami, selanjudnya tujuanya pembahasan ini juga agar kita mengetahui tentang sejarah pendidikan Islam di Indonesia, berupa kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah pada awal kemerdekan dan di khususkan pada masa Orde baru yaitu tahun  (1966-1998)
C. Metode Penulisan
Makalah ini ditulis dalam tiga bab, Bab pertama berisi pendahuluan, kemudian Bab kedua berisi pembahasan yang dibahasa yakni Sejarah Pendidikan Islam pada masa Kemerdekaan Indonesia dan di khususkan pada masa Orde baru, dan selanjudnya pada Bab ke tiga berisi kesimpulan sekaligus penutup dari pembahasan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan Islam Pada Masa Orde Baru
Sejak ditumpasnya peristiwa G30 S/PKI pada tanggal 30 Oktober 1965, bangsa Indonesia telah memasuki fase baru yang dinamakan Orde Baru.
Orde baru adalah :
1)      Sikap mental yang positif untuk menghentikan dan mengoreksi segala penyelewengan terhadap Pancasila dari UUD 1945.
2)      Memperjuangkan adanya masyarakat yang adil dan makmur, baik material dan spiritual melalui pembangunan.
3)      Sikap mental mengabdi kepada kepentingan rakyat dan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Dengan demikian, orde baru bukan merupakan golongan tertentu, sebab orde baru bukan berupa penyelewengan fisik. Perubahan orde lama (sebelum 30 September 1965) ke orde baru berlangsung melalui kerja sama erat antara pihak ABRI atau tentara dan gerakan-gerakan pemuda yang disebut angkatan 1966. Para pemuda itu bergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Dalam KAMI yang memegang peranan penting khususnya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang amat kuat serta mempunyai hubungan yang tidak resmi dan organisasi Islam lainnya. Pada tahun 1966, mahasiswa memulai melakukan demonstrasi memprotes segala macam penyalahgunaan kekuasaan, harga yang meningkat dan korupsi yang merajalela. Protes itu berkembang dan berhulu protes terhadap Soekarno. Akhirnya pada tahun itu juga Soekarno didesak untuk menandatangani surat yang memerintahkan Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan guna keselamatan dan stabilitas negara serta pemerintah.[1]
Dalam Pasal 4 TAP MPRS No.XXVII/MPRS/1966 tersebut selanjutnya disebutkan tentang isi pendidikan, di mana untuk mencapai dasar dan tujuan pendidikan, maka isi pendidikan adalah :
1)      Mempertinggi mental, moral, budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama.
2)      Mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan
3)      Membina dan mengembangkan fisik yang kuat dan sehat.
Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah berlangsung seumur hidup. Oleh karenanya agar pendidikan dapat dimiliki oleh sebuah rakyat sesuai dengan kemampuan masing-masing individu.
Menurut UU Nomor 2 tahun 1989 tersebut, pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan berbudi pekerti luhur, memiliki ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dari undang-undang Sistem Pendidikan Nasional ini, mengusahakan :
1)      Membentuk manusia Pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya yang mampu mandiri.
2)      Pemberian dukungan bagi perkembangan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang terwujud dalam ketahanan nasional yang tangguh, yang mengandung terwujudnya kemampuan bangsa menangkal setiap ajaran, paham dan idiologi yang bertentangan dengan Pancasila.
Dengan landasan demikian, sistem pendidikan nasional dilaksanakan secara swasta, menyeluruh dan terpadu. Semesta dalam arti terbuka bagi seluruh rakyat, dan berlaku di seluruh wilayah negara, menyeluruh dalam arti mencakup semua jalur. Jenjang dan jenis pendidikan, dan terpadu dalam arti adanya saling keterkaitan antara pendidikan nasional dengan seluruh usaha pembangunan nasional.
B.     Sistem Pendidikan Pada masa Orde Lama dan Baru
Di tengah berkobarnya revolusi fisik, pemerintah Indonesia tetap membina pendidikan agama. Pembinaan agama tersebut secara formal institusional dipercayakan kepada Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Oleh karena itu, dikeluarkanlah peraturan-peraturan bersama antara kedua departemen tersebut untuk mengelola pendidikan agama di sekolah-sekolah umum baik negeri maupun swasta.
Maka sejak itulah terjadi semacam dualisme pendidikan di Indonesia, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Di satu pihak Departemen Agama mengelola semua jenis pendidikan agama baik di sekolah-sekolah agama maupun di sekolah-sekolah umum. Keadaan seperti ini sempat dipertentangkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak senang dengan adanya pendidikan agama, terutama golongan komunis, sehingga ada kesan seakan-akan pendidikan agama khususnya Islam, terpisah dari pendidikan.
Pendidikan agama diatur secara khusus dalam UU Nomor 4 tahun 1950 pada bab XII Pasal 20, yaitu :[2]
1)      Dalam sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama, orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran tersebut.
2)      Cara penyelenggaraan pelajaran agama di sekolah-sekolah negeri di atur dalam peraturan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, bersama-sama dengan Menteri Agama.
Dalam hubungan ini kementrian agama juga telah merencanakan rencana-rencana program pendidikan yang akan dilaksanakan dengan menunjukkan jenis-jenis pendidikan serta pengajaran Islam sebagai berikut :[3]
1)      Pesantren klasik, semacam sekolah swasta keagamaan yang menyediakan asrama, yang sejauh mungkin memberikan pendidikan yang bersifat pribadi, sebelumnya terbatas pada pengajaran keagamaan serta pelaksanaan ibadah.
2)      Madrasah diniyah, yaitu sekolah-sekolah yang memberikan pengajaran tambahan bagi murid sekolah negeri yang berusia 7 sampai 20 tahun.
3)      Madrasah-madrasah swasta, yaitu pesantren yang dikelola secara modern, yang bersamaan dengan pengajaran agama juga diberikan pelajaran-pelajaran umum.
4)      Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), yaitu sekolah dasar negeri enam tahun, di mana perbandingan umum kira-kira 1:2.
5)      Suatu percobaan baru telah ditambahkan pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 6 tahun, dengan menambahkan kursus selama 2 tahun, yang memberikan latihan ketrampilan sederhana.
6)      Pendidikan teologi agama tertinggi. Pada tingkat universitas diberikan sejak tahun 1960 pada IAIN. IAIN ini dimulai dengan dua bagian / dua fakultas di Yogyakarta dan dua fakultas di Jakarta.
Pada era orde lama, pengaturan dua sistem pendidikan ini kemudian diupayakan untuk dihapus. Paling tidak ada tiga usaha yang dilakukan yaitu:
1)      Memasukkan pendidikan Islam ke dalam kurikulum pendidikan umum di sekolah negeri maupun swasta melalui pelajaran agama.
2)      Memasukkan ilmu pengetahuan umum ke dalam kurikulum pendidikan di madrasah.
3)      Mendirikan sekolah pendidikan guru agama (PGA) untuk memproduksi guru agama bagi sekolah umum maupun madrasah.
Pada awal pemerintahan orde baru, pendekatan legal formal dijalankan tidak memberikan dukungan pada madrasah. Tahun 1972 Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 34 tahun 1972 dan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 15 tahun 1974 yang mengatur madrasah di bawah pengelolaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang sebelumnya dikelola oleh Menteri Agama.[4]
Ringkasnya bahwa ditinjau dari segi falsafah negara Pancasila dari konstitusi UUD 1945, dan dari keputusan-keputusan MPR tentang GBHN, maka kehidupan beragama dalam pendidikan agama di Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 1945 sampai berakhirnya Pelaksanaan Pembangunan Jangka Panjang Tahap 1 dan memasuki PJP II semakin mantap.
Begitu juga teknik pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah umum mengalami perubahan-perubahan tertentu, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan sistem proses belajar mengajar, misalnya tentang materi pendidikan agama diadakan pengintegrasian dan pengelompokan, yang tampaknya lebih terpadu dan diadakan pengurangan alokasi waktu.

BAB III
KESIMPULAN
Sebagaimana dikemukakan diatas MPRS pada tahun 1966 telah bersidang. Pada waktu itu sedang dilakukan upaya untuk membersihkan sisa-sisa mental G 30 S/ PKI. Dalam keputusannya bidang pendidikan agama telah mengalami kemajuan. Dengan demikian sejak tahun 1966 pendidikan agama menjadi hak wajib mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Umum Negeri di seluruh Indonesia.
Sejak tahun 1966 telah terjadi perubahan besar pada bangsa Indonesia, baik menyangkut kehidupan sosial, agama maupun politik. Periode ini disebut zaman Orde Baru dan zaman munculnya angkatan baru yang disebut angkatan 66. pemerintah Orde Baru bertekad sepenuhnya untuk kembali kepada UUD 1945 dan melaksanakannya secara murni dan konsekuen. Pemerintah dan rakyat membangun manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Berdasarkan tekad dan semangat tersebut, kehidupan beragama dan pendidikan agama khususnya, makin memperoleh tempat yang kuat dalam struktur organisasi pemerintahan dan dalam masyarakat pada umumnya.

dakwah dan jihat tasawuf

Sejarah membuktikan Ahli Tasawuf memainkan peranan penting di dalam usaha menegak dan mempertahankan agama Allah. Mereka bukanlah hanya menghabiskan masa dengan berzikir, tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak mengendahkan suasana di sekelilingnya. Sebaliknya mereka turut mengambil bagian yang serius di dalam dakwah dan jihad, malah memberikan sumbangan yang besar dalam perjuangan umat Islam atau dalam jihad menentang kuffar di medan peperangan, maupun menentang kemungkaran dan
kezaliman yang dilakukan golongan berkuasa.
Pembelaan para pemimpin kerohanian terhadap Islam sangat jelas di dalam lembaran sejarah. Di antaranya ialah Syeikh Hatim dan gurunya Syeikh Syaqiq. Mereka berdua telah mengambil bahagian dalam jihad di zaman mereka, dan guru beliau telah syahid di medan peperangan.
Ibrahim bin Adham, seorang wali Allah, di dalam manaqibnya ada dijelaskan bahawa beliau sentiasa mengambil bahagian dalam peperangan yang berlaku di zamannya, baik peperangan itu berlaku di darat mahupun di laut. Demikian juga Syeikh Abu Yazid Al-Bistami, beliau bukan sahaja seorang guru mursyid dan pemimpin kerohanian, bahkan merupakan seorang pejuang yang berani memasuki apa jua medan peperangan sehingga beliau sendiri pernah berkata : “Aku telah ditetapkan Allah untuk bersama-sama dengan para mujahidin (di medan peperangan). Aku menetakkan pedang di muka musuh-musuh Allah itu bersama mereka di dalam masa yang lama.”
Dalam hal ini, Dr. Abd Halim Mahmud di dalam sebuah bukunya menegaskan bahawa Syeikh Abu Yazid ketika berada di barisan hadapan, bukan hanya semalaman bersandar di tembok-tembok kubu Islam, tetapi beliau juga terus berzikrullah tanpa putus-putus, sehingga beliau benar-benar menjadi orang Mukmin yang menepati kehendak sabda Rasulullah SAW :
“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka (di akhirat) ialah mata yang menangis kerana takutkan Allah dan mata yang celik sepanjang malam kerana menjaga (musuh) di dalam perang fi sabilillah.”
Uwais Al-Qarni adalah seorang wali Allah dan semulia-mulia tabi’in. Sejarah mencatatkan bahawa beliau telah turut sama mempertahankan Saidina Ali di dalam peperangan Siffin kerana berpendapat golongan yang menentang Saidina Ali adalah salah, dan wajib memerangi mereka sehingga mereka bertaubat dan kembali kepada jalan sebenar. Kemudian ketika tentera Islam berperang dengan tentera Rom, beliau telah sama-sama mencabut pedang dan terjun ke medan perang. Beliau telah syahid akibat mengalami kecederaan di dalam peperangan tersebut.
Dalam peperangan Salib, para ulama tasawuf telah memainkan peranan yang cukup penting sebagaimana yang dinukilkan di dalam Haqaiq ‘an al-Tasawuf :
“Dan di Mesir, di waktu tentera Salib sampai di Dimyat, golongan sufiyyah seperti Syeikh Abu Hasan Asy-Syazili, ‘Izuddin bin Abd Salam dan Abu Fath bin Daqiq al-’Iyd dan ulama-ulama lain telah memberikan khidmat yang sebaik-baiknya untuk menentang tentera Salib.”
Begitu juga dengan Imam Sanusi yang hidup di sekitar tahun 1200 Hijrah. Beliau mengetuai umat Islam menentang penjajahan Itali selama berpuluh-puluh tahun. Syeikh Abd Qadir al-Jazairi juga adalah seorang panglima dan pemimpin agung gerakan menentang penjajahan Peranchis di Algeria. Kita juga mungkin telah membaca sejarah dan menonton tayangan filem mengenai perjuangan Syeikh Umar Mokhtar yang gigih menentang penjajahan Itali di Libya di mana beliau akhirnya syahid di tali gantung.
Di benua India pula, kita menemui tokoh-tokoh perjalanan kerohanian seperti Syeikh Ahmad al-Sirhindi, Syah WaliyuLlah al-Dihlawi dan lain-lain yang sangat berjasa kepada Islam kerana jihad mereka dalam politik dan agama sehingga Syeikh Abu Hassan An-Nadwi menyebutkan pentingnya peranan mereka itu dengan katanya :
“Sesungguhnya saya sentiasa menyatakan bahawa jika tidak kerana wujudnya mereka itu dan jihad mereka, nescaya Islam telah (lenyap) ditelan oleh agama Hindu, tamadunnya dan falsafahnya.”
Di Asia Tenggara dan Kepulauan Melayu, kita akan temui tokoh-tokoh tasawuf yang memainkan peranan penting di dalam politik dan pentadbiran negara. Pada zaman keagungan empayar Islam Acheh pada abad ke-16 dan 17, kita dapat melihat bagaimana peranan yang dimainkan oleh Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Syeikh Abd Rauf Singkel dan lain-lain lagi.
Sejarah kedatangan Islam di Terengganu, malah di Semenanjung Tanah Melayu juga berkait rapat dengan usaha dakwah golongan Tasawuf. Ia bermula di Kuala Berang yang menjadi pusat tamadun dan kerohanian Islam pertama.
Kira-kira 700 tahun dahulu, penduduk Kuala Berang dipercayai menganut agama Buddha, kemudian Hindu dan akhirnya menerima Islam. Dakwah Islam ini telah dibawa oleh seorang ulama yang sangat berjasa kepada Nusantara ini bernama Syarif Muhammad al-Baghdadi. Beliau merupakan keturunan Saidina Hasan daripada sebelah bapanya dan Saidina Husin daripada sebelah ibunya.
Syarif Muhammad dipercayai telah meninggalkan takhtanya dan kerajaan Baghdad untuk beruzlah di Mekah. Selepas Mekah, Syarif Muhammad menuju ke Hadratulmaut di Yaman dan kemudiannya ke Nusantara iaitu di Hulu Terengganu. Beliau berdakwah menyampaikan Islam kepada masyarakat dan berjihad menjatuhkan kerajaan Seri Wijaya Majapahit.
Setelah berjaya menjatuhkan kerajaan Hindu, beliau telah mendirikan sebuah kerajaan Islam dan seterusnya membina sebuah pusat pemerintahan yang dinamakan “Kota Tamir” yang terletak di kawasan seluas 300 ekar. Ramai di kalangan para pembesar dan raja-raja Hindu yang memeluk Islam dan menjadi pengikut yang kuat. Pemerintahan dan perjuangan Baginda Syarif Muhammad diteruskan pula oleh keturunannya yang bernama Syarif Abdul Qahar bin Syarif Muhammad (Tok Paloh), kemudian diamanahkan kepada cucunya Syarif Abdullah bin Syarif Qahar (Tok Pauh) dan seterusnya kepada cicitnya Syarif Abdul Malik yang juga disebut Syeikh Abdul Malik atau Tok Pulau Manis. Kesemuanya adalah wali Allah dan dimuliakan Allah dengan diberikan pelbagai karamah.
Tok Pulau Manis kemudiannya menubuhkan pula ‘Kota Pulau Manis’ dan mendirikan institusi pendidikan agama yang tertua dan terbesar di Tanah Melayu ketika itu. Beliau telah mengambil jalan wara’ dengan menyerahkan pemerintahan kerajaannya kepada menantunya iaitu Tun Jenal yang berkahwin dengan anaknya Siti Zubaidah. Tun Jenal ditabalkan sebagai raja di Tanjung Baru, Hulu Terengganu dan bergelar Sultan Zainal Abidin 1.
Seorang lagi ulama tasawuf Terengganu ialah Tokku Paloh, seorang guru mursyid Tariqat Naqsyabandiah yang banyak berjasa terhadap kerajaan Terengganu dan rakyat jelata di dalam usaha menentang kerajaan British.
Salah satu peristiwa yang masyhur ialah ketika pihak Inggeris mahu berunding dengan Raja Melayu mengenai satu tempat bernama Bukit Besar yang ingin mereka miliki. Raja atau Sultan Terengganu pada ketika itu ialah Sultan Zainal Abidin III dan regu baginda ialah Tokku Paloh. Bila Inggeris bertemu baginda dan menyatakan hasrat mereka, lantas Sultan bertitah, “Negeri ini ada tuannya, hendaklah berunding dengannya terlebih dahulu.” Maksud baginda ialah Tokku Paloh.
Pihak Inggeris pun bertemu dengan Tokku Paloh dan berunding mengenai hal itu. Tokku Paloh mengatakan bahawa mereka boleh ‘mengambil’ Bukit Besar dengan syarat bukit itu dibawa balik ke negeri mereka, punggahlah tanahnya ke dalam kapal. Pihak Inggeris amat marah lalu bangun untuk meninggalkan majlis tersebut. Tapi dengan izin Allah dan karamah Tokku Paloh, kerusi yang diduduki pihak Inggeris melekat pada punggung mereka. Lalu Tokku Paloh menyindir, “Bukan Bukit Besar sahaja yang kamu mahu ambil, tapi kerusi kamipun kamu mahu ambil juga”. Pergilah pihak Inggeris dengan penuh rasa malu.
Kemudian, mereka mahu berunding buat kali kedua tapi ia mestilah diadakan di atas kapal mereka yang besar itu. Bila diajukan jemputan kepada Tokku Paloh, beliau mengatakan kapal besar tak mampu bertahan kalau ia naik. Pihak Inggeris ketawa mendengar kata-kata Tokku Paloh itu. Namun dengan izin Allah dan karamahnya, setiap kali Tokku Paloh menyengetkan serbannya ke kanan atau ke kiri, maka kapal yangbesar itu turut senget mengikut perbuatan Tokku Paloh. Hal itu menimbulkan perasaan cemas di pihak Inggeris sehingga rundingan dibatalkan serta merta.
Begitu juga dengan murid Tokku Paloh, Haji Abd. Rahman Limbong yang telah memainkan peranan penting dalam kebangkitan tahun 1921-1928 Masihi di Terengganu dalam mempertahankan Islam dari anasir penjajahan.
Selain itu, sejarah juga mencatatkan peranan besar yang dimainkan oleh Wali Songo (Wali Sembilan) di Pulau Jawa. Dengan usaha gigih yang dilakukan, dengan sokongan rakyat jelata, mereka berjaya menubuhkan pemerintahan Islam, menewaskan kekuasaan Hindu, mendirikan masjid, pesantren (pondok), mewujudkan keamanan dan ketenteraman dalam kehidupan masyarakat.
Sejarah Islamnya Kerajaan Pattani juga melibatkan ahli Tasawuf dengan kaedah menarik. Menurut ceritanya, tiga orang ulama sufi yang merupakan sahabat karib telah menjalankan dakwah di Patani. Mereka ialah Syeikh Shafiyuddin, Syeikh Sa’id Barsisa dan Syeikh Gombak Abdul Mubin. Sebaik tiba di Patani, mereka bertiga telah membuat pondok kecil di satu tempat bernama Kerisik. Di situ, mereka mengumpul maklumat, membuat kajian mengenai suasana dan budaya setempat serta memikirkan strategi dakwah yang sesuai kerana di masa itu Patani diperintah oleh raja yang beragama Budha.
Syeikh Shafiyuddin amat kuat beribadah, berkhalwat dan berzikir memohon pertolongan Allah dalam dakwahnya. Manakala kedua sahabatnya keluar meninjau dan mendapatkan maklumat-maklumat baru. Suatu hari, tersebarlah berita bahawa Maharaja Antira iaitu pemerintah Patani mengalami penyakit yang berat. Maka sesiapa yang dapat merawatnya akan diberi upah yang besar. Sebelum ini telah ramai bomoh yang mengubati beliau, namun tidak juga sembuh-sembuh. Apabila pegawai raja sampai ke tempat Syeikh-Syeikh ini, salah seorang dari mereka menyapa dan memberitahu bahawa terdapat seorang dukun yang sangat sakti yang mampu menyembuhkan maharaja itu. Dukun yang dimaksudkan itu sebenarnya ialah Syeikh Shafiyuddin sendiri.
Keesokan harinya, ketiga-tiga orang Syeikh itu dijemput ke istana untuk mengubati raja. Sebelum upacara pengubatan dilakukan, terjadi perjanjian dimana jika raja sembuh hasil pengubatan Syeikh Shafiyuddin, maka raja mestilah menukar agama dari Budha kepada Islam. Syarat itu dipersetujui raja. Kemudian, Syeikh mula membacakan doa-doa dan ayat-ayat al-Quran.
Dengan izin Allah, tiga hari selepas itu raja pun sembuh dari penyakitnya. Tapi raja engkar dengan janjinya untuk memeluk Islam. Dengan karamah Syeikh Shafiyuddin, penyakit raja berulang semula. Maka diubati lagi seperti janji yang pertama, dan sembuh kembali. Raja mungkir lagi, tiba-tiba penyakitnya datang kembali. Diubati lagi dan sembuh semula. Akhirnya raja Budha itu pun memeluk Islam dan diikuti oleh ramai rakyatnya. Sejak itu, ketiga-tiga Wali Allah tadi mendapat tempat kedudukan yang tinggi di Kerajaan Patani.
Selain itu terdapat tokoh-tokoh lain yang juga berperanan besar dalam menegakkan Islam di Nusantara seperti Syeikh Abd Samad al-Falimbani, Syeikh Daud al-Fatani, Ismail Minangkabau, Muhamad Salleh al-Zawawi, Arshad Banjari dan banyak lagi.
Di samping itu, yang sudah termasyhur ialah seperti Imam Al-Ghazali, Syeikh Abd Qadir Jailani, Imam Hassan Al-Banna dan lain-lain. Mengenai hal ini, Al-Maududi berkata :
“Sesungguhnya mereka (ahli tasawuf) mempunyai jasa yang besar dalam penyebaran Islam di daerah-daerah yang jauh terpencil yang belum ditakluki oleh tentera-tentera Islam atau yang belum dapat ditundukkan di bawah hukum Islam. Di tangan mereka itulah, Islam tersebar di Afrika, Indonesia, pulau-pulau di Lautan Hindi, China dan India.”
Abu Hasan Ali an-Nadwi pula menukilkan mengenai dakwah Syeikh Abd Qadir al-Jailani dengan katanya :
“Kira-kira 70,000 orang telah menghadiri majlis (ta’limnya). Lebih 5,000 orang Yahudi dan Nasrani telah memeluk Islam menerusi usahanya. Lebih 100,000 orang-orang jahat dan perompak atau pencuri bersenjata yang telah bertaubat menerusi usahanya. Beliau telah membuka pintu taubat dan bai’ah seluas-luasnya, maka orang ramai yang tidak diketahui bilangan mereka itu kecuali Allah sahaja, telah masuk ke dalamnya. Sehingga akhlak mereka menjadi baik dan demikian juga keIslaman mereka itu.”
Demikianlah beberapa contoh mengenai peranan golongan tasawuf, wali-wali Allah dan pengikut perjalanan kerohanian di dalam amal dakwah dan jihad. Jelaslah bahawa golongan tasawuf bukanlah mereka yang hanya berzikir dan beramal semata-mata, malah berada di barisan hadapan dalam memperjuang dan mempertahankan Islam. Bagi setengah golongan yang meninggalkan amal-amal seperti ini, bermakna mereka telah meninggalkan sunnah Nabi SAW dan perjalanan para sahabat (radiaLahu ‘anhum).
Wallahu ‘alam.

pengaruh kehidupan rosulullah saw bagi umat muslim

 pengaruh kehidupan rosulullah saw bagi umat muslim

    Sebagai pendiri agama besar dunia, Rasulullah saw memiliki pengaruh yang luar biasa dalam sejarah hidup manusia. Beliau saw telah memulai peradaban baru dan memberikan suatu pengaruh pribadi yang sangat besar pada jutaan umat Islam selama empat belas abad terakhir. Tidak ada pemimin agama lain seperti Zoroaster, Laozi, Mahavira, Musa as, Gautama, Buddha atau Nabi Isa as yang memiliki pengaruh terhadap perilaku sehari-hari se-komprehensif dan mendalam seperti yang diperlihatkan Nabi Muhammad saw dengan memberikan contoh teladan dalam bidang agama dan duniawi. Selama umat Islam mengikuti akhlak Beliau saw, maka mereka akan mendapatkan kemajuan dalam segala bidang kehidupan. Dan kapanpun, dimanapun mereka lalai mengikutinya, mereka akan mendapatkan kerugian.
Shalat lima waktu adalah salah satu contoh dari teladan Rasulullah saw, dan sampai saat ini hal tersebut telah diikuti oleh umat Islam seluruh dunia. Mereka yang tinggal di dekat Masjid, ketika mendengar panggilan azan maka mereka akan bersiap untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Dengan mencontohkan sendiri, Rasulullah saw menunjukkan bagaimana membersihkan beberapa bagian tubuh seseorang sebagai persiapan sebelum menunaikan shalat, yaitu dengan melakukan wudhu. Pertama dia mencuci tangan dengan air tiga kali, kemudian berkumur dan membersihkan bagian dalam hidungnya dengan air tiga kali, mencuci seluruh wajahnya, tangan hingga siku, membasuhkan air di tangan ke atas kepala, membersihkan telinga dengan ujung jarinya, membersihkan belakang leher, dan pada akhirnya membasuh kedua kaki masing-masing tiga kali. Dalam berwudhu dibaca doa: "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci’ (HR. At-Tirmidzi 1/78). Cara wudhu beserta doa wudhu kini telah mapan diikuti diseluruh dunia Islam dan dipraktekkan oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Panggilan azan dimulai oleh Rasulullah saw setelah Beliau membangun masjid pertama. Beliau saw meminta para sahabat untuk merekomendasikan cara yang baik untuk memanggil umat Islam ke masjid ketika waktu shalat tiba. Atas saran salah seorang sahabat, Beliau saw menerapkannya dalam kalimat-kalimat azan dan meminta Bilal ra mengumandangkan azan dengan keras. Sejak saat itu Beliau saw sendiri datang ke masjid saat mendengar azan dan hal ini dipraktekkan oleh umat Islam di seluruh dunia. Umat Islam dibangunkan pada saat subuh dengan mendengar azan - hal pertama yang mereka dengar dalam mengawali hari baru. Tidak hanya itu Rasulullah saw juga menganjurkan kepada umat Islam untuk mengucapkan kalimah azan ke telinga bayi yang baru lahir sebagai pesan spiritual pertama yang bayi harus dengar, dan hal ini sekarang telah dipraktekkan di setiap kelahiran anak seorang Muslim.
Rasulullah saw membangun masjid pertama Islam di Madinah sebagai tempat beribadah secara berjamaah dan sebagai tempat pensucian rohani, juga sebagai tempat dimana Beliau saw bisa mengajarkan ajaran Islam dan nilai-nilai akhlak kepada para pengikut Beliau saw. Masjid ini dikenal sebagai Masjid Nabawi (Masjid nabi). Tidak ada catatan dalam sejarah bahwa Nabi Musa as, Mahavira, Gautama, Budha, Zoroaster atau Nabi Isa as telah membangun Sinagog, Kuil atau Gereja selama hidup mereka. Tidak ada candi Hindu selama periode Weda.
Mengikuti sunnah dari Rasulullah saw, tradisi membangun masjid berkembang dengan sangat cepat di seluruh dunia Islam - dari padang pasir Arabia sampai ke Afrika Utara dan Spanyol di Barat. Sampai ke India, Indonesia dan China di Timur. Kemudian di dalam kerajaan Islam yang luas, masjid-masjid megah dibangun, yang beberapa diantaranya tercatat memiliki keajaiban arsitektur. Beberapa Masjid yang bersejarah adalah: The Dome of Rock/Kubah Shakhrah dan Masjid Al-Aqsa (Palestina), Masjid Agung Damaskus (Syiria), Masjid Agung Cordoba (Spanyol), Masjid Qurawiyan di Fez (Maroko), Masjid al Azhar Kairo (Mesir), Masjid Suleimania Istambul (Turki), Masjid e-Jami dan Masjid Shah di Isfahan (Iran), Masjid Badhahi di Lahore (Pakistan), Masjid Jamia di Delhi (India) dan Masjid Agung 'Xi an (Cina). Hampir tidak ada kota, wilayah atau kota di dunia Islam yang tidak ada masjid. Dan tidak diragukan lagi masjid memiliki dampak yang signifikan pada kehidupan sehari-hari umat Islam.
Rasulullah saw sendiri secara pribadi mengikuti setiap kata dari bimbingan Al-Qur'an yang diwahyukan kepada Beliau dan Beliau saw kemudian mengajarkan bagaimana melaksanakan perintah-perintah Al-Qur'an dalam bentuk praktek. Di lain pihak tidak ada catatan khusus bagaimana dan kapan para pendiri agama lain biasa beribadah selama hidup mereka. Para sahabat Rasulullah saw secara teliti mencontoh dan mengikuti praktek Rasulullah saw dengan tulus. Beberapa dari antara mereka bahkan menuliskan apa yang mereka lihat atau dengar.
Semua bahan penting dari shalat wajib - baik bacaan maupun gerakan- diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Kemana menghadap ketika shalat, bagaimana niat awal shalat, bagaimana mengatur saf di belakang imam, bagaimana ruku', i'tidal, sujud dan duduk serta mengakhiri shalat - semua aspek tersebut dicontohkan secara detail oleh Rasulullah saw dan dan hal itu dipraktekkan oleh umat Islam selama berabad-abad. Sebelum dan atau setelah shalat wajib lima waktu Rasulullah saw juga biasa melaksanakan shalat tambahan (nawafil) di masjid atau di rumah Beliau saw sendiri. Shalat-shalat tambahan itu biasa dikenal dengan shalat sunnah. Setiap orang Islam menganggap penting hal ini guna mengikuti sunnah Rasulullah saw. Selain itu Rasulullah saw sangat menekankan untuk mengerjakan shalat Jumat. Waktu pelaksanaan shalat jumat, khutbah dan detail-detail lain seputar shalat Jumat telah diajarkan oleh Beliau saw dan hal itu telah diterapkan oleh umat Islam sampai sekarang.
Selain mencontohkan sendiri dan mengajarkan shalat sehari-hari dan shalat Jumat, Rasulullah saw juga mencontohkan perintah-perintah lain - seperti puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat kepada orang miskin dan yang membutuhkan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah di Mekkah. Beliau saw telah menjelaskan semua segi tanggung jawab agama secara praktek untuk menunjukkan bagaimana cara melaksanakannya. Tidakan yang tepat dan ajaran-ajaran yang jelas tentang rukun Islam telah menjadi bahan pedoman bagi tiap umat Islam untuk membentuk kehidupan mereka yang baik sehari hari. Kemurahan hati Beliau saw dalam membantu mereka membutuhkan, meningkatkan ibadah kepada Allah selama bulan puasa, ibadah haji, merayakan hari raya Idul Fitri dan memberikan hewan kurban selama Idul Adha - semua terdokumentasikan dengan baik. Sunnah Beliau saw telah sangat mempengaruhi kehidupan umat Islam. Tanpa keraguan bahwa tidak ada komunitas agama lain yang memiliki panutan dalam pribadi pendiri agama mereka yang bisa diikuti dalam praktek keagamaan mereka saat ini.
Kesucian tubuh, pakaian, lingkungan dan tempat ibadah selalu ditekankan dalam Islam oleh Rasulullah saw sebagai kebutuhan bagi kesucian jiwa.Rasulullah saw biasa mengatakan bahwa agama dibangun diatas kebersihan. Dan kesucian adalah kunci ibadah. Al-Qur'an menyatakan: 
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (2:222). 
Sehingga hal ini menjadi praktek universal Islam untuk memakai pakaian yang bersih sementara mereka beribadah sehari-hari. Mandi adalah rutinitas Nabi dan Beliau saw mewajibkan dalam keadaan tertentu seperti setelah hubungan suami istri, Beliau saw juga menganjurkan umat Islam untuk mandi sebelum pergi di hari besar seperti hari Jumat dan Idul Fitri. Dan dalam mengikuti kebiasaan Rasulullah saw banyak umat Islam menggunakan minyak wangi, dan menghindari makanan yang berbau kuat sebelum menghadiri acara-acara tertentu.
Para sahabat juga mencontoh etika sosial Rasulullah saw. Sebagai contoh, sebagian besar umat Islam mencoba mengikuti sopan santun di meja makan. Beliau saw biasa mencuci tangan sebelum makan, makan dengan tangan kanan dan makan hidangan yang ada di hadapannya. Beliau saw mengajarkan: “Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022). Beliau saw mengikuti perintah Al-Qur'an (2:168) untuk makan makanan yang halal dan thayyib (yang baik). Beliau saw sendiri tidak pernah menyentuh setiap yang haram. "Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah". (2:173). Untuk tidak memberatkan para pengikut beliau, beliau saw menetapkan prinsip bahwa segala sesuatu adalah halal kecuali yang jelas dilarang oleh hukum. Tidak hanya itu Al-Qur'an menyatakan: .."Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. (2:173). Rasulullah saw juga mencontohkan makanan yang tidak berlebihan dalam mentaati perintah Al-Qur'an "makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (7:32). Rasulullah saw biasa mengambil makanan sebanyak yang ia bisa makan dengan nyaman dan tidak meninggalkan sisa makanan di piring setelah selesai makan. Beliau saw minum dengan perlahan dengan tiga jeda. Beliau saw tidak pernah mencela makanan yang ditawarkan kepadanya. Setelah makan Rasulullah saw selalu mencuci tangan dan mengucapkan syukur kepada Allah. Selain itu Beliau saw menekankan bahwa tidak saja makanan yang dimakan itu harus halal tetapi - uang yang dipakai untuk membeli makananpun juga harus halal.
Setiap kali dua orang Muslim bertemu mereka saling mengucapkan salam. Salam yang Rasulullah saw biasa ucapkan ketika bertemu yaitu dengan mengucapkan Assalamalaikum' yang berarti "Damai sejahtera bagi kamu." Jawaban terhadap ucapan itu juga diajarkan oleh Rasulullah saw yaitu 'waalaikum salam' yang berarti: "kesejahteraan juga bagi engkau'. Jika bertemu dengan seseorang Beliau saw biasa menjabat tangan. Kebiasaan  ini secara universal diterapkan dalam kehidupan sehari-hari umat Islam di seluruh dunia. Selain itu Rasulullah saw selalu mengingat Allah di saat penting sehari-harinya. Beliau saw menggunakan kalimat Al-Qur'an yang singkat untuk mengungkapkan niat atau perasaannya, suka cita atau kesedihan. Sebelum memulai sesuatu yang penting Beliau saw biasa membaca bismillah. Saat tercapai tujuan atau mengekspresikan cinta dan suka cita beliau saw selalu memuji Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah. Untuk mengekspresikan kebahagiaan dan apresisi melihat sesuatu yang indah dan yang patut dipuji atau menerima kabar baik Beliau saw selalu mengatakan masyaallah atau subhanallah. Dalam Al-Qur'an dinyatakan bahwa pada saat pengambilan keputusan orang tidak boleh melupakan Tuhan dan jangan egois dengan hanya tergantung pada keputusan sendiri. Al-Qur'an mengajarkan: Dan jangan engkau sekali-kali berkata tentang sesuatu, “Aku pasti akan mengerjakannya esok hari Kecuali bila Allah swt. menghendaki.” (18:23-24). Rasulullah saw selalu menerapkan hal ini dengan mengatakan insyallah ketika berbicara tentang segala harapan masa depan atau rencana, dan setiap muslim yang baik melakukan hal yang sama. Ini telah menjadi bagian ucapan sehari hari mereka. Demikian pula pada saat-saat mendapatkan kerugian atau kesedihan Rasulullah saw biasa mengatakan: "Sesungguhnya kami kepunyaan Allah swt. dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali (2:156). Kalimat Al-Qur'an ini selalu diucapkan oleh semua umat Islam ketika mendengar berita sedih khususnya pada saat mendengar berita kematian seseorang.
Diantara etika sosial terdapat begitu banyak yang dipengaruhi oleh kebiasaan Rasulullah saw terhadap perilaku sehari-hari umat Islam yang agaknya mustahil untuk menuliskannya dalam sebuah artikel pendek. Kerukunan Beliau saw di masyarakat, keramahtamahan, penghormatan terhadap tamu dan orang yang lebih tua, mencintai yang lebih muda, membantu orang lain, peduli terhadap tetangga, mengunjungi orang sakit dan bersimpati pada orang yang mengalami musibah - adalah beberapa contoh dari akhlak Beliau saw. Beliau saw dianiaya, berbagai upaya dilakukan selama hidupnya dan peperangan ditimpakan pada Beliau saw dan para sahabat. Tanggapan Beliau saw selalu dengan kesabaran, keteguhan, keberanian, kegigihan dan pengampunan. Beliau saw juga memperlihatkan contoh teladan sebagai seorang pemimpin, legislator, hakim, sebagai seorang panglima dan kepala negara yang sukses. 
Tetapi diatas semua hal itu Beliau saw telah menunjukkan bagaimana mengajak umat manusia untuk tunduk kepada kehendak Allah taala dan bagaimana mengajak mereka menuju perdamaian dan keselamatan.
Al-Qur'an merangkum akhlak Beliau saw dalam kata-kata berikut: 
"Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (6:162-163)

menjawab beberapa keberatan islam

Menjawab beberapa keberatan tentang islam

 
Suatu kehormatan bagi saya dapat berbagi beberapa pemikiran kepada kalian semua pada tema yang sangat relevan yaitu Apa pesan-pesan Islam, Agama damai yang banyak disalahpahami oleh orang-orang pada masa-masa sekarang.

Upaya membangun perdamaian adalah salah satu dari hal yang paling mendapatkan perhatian pada saat ini. Tetapi sayangnya perdamaian tidak kita jumpai dimanapun. Banyak terjadi peperangan di berbagai tempat. Begitu juga begitu banyak permasalahan dan krisis yang serius yang dihadapai umat manusia, dan semua orang begitu mendambakan jalan menuju kedamaian abadi sehingga mereka dapat menikmati kehidupan mereka di dunia ini dan juga ketika mereka kembali kepada Sang Pencipta.
Islam menyajikan perdamaian nyata bagi seluruh umat manusia, Kami tidak mengklaim bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang menyajikan kedamaian, kami juga tidak mengklaim Islam  memonopoli suatu kebenaran. Kami mengakui bahwa semua agama yang benar diajarkan dan dikirim oleh Allah taala, mereka membawa pesan perdamaian karena mereka semua berasal dari satu pencipta yang sama yang merupakan sumber kedamaian sepanjang masa. Tetapi Islam sangat berbeda karena Islam secara harfiah berarti damai. Hal itu menyajikan pesan perdamaian dengan kejelasan yang penuh dan kebijaksanaan yang mendalam. Islam berarti penyerahan diri kepada kehendak dan perintah Allah dan karena mengikuti ajaran-ajarannya, orang dapat mendapatkan kedamaian setiap saat.

Sayangnya pada saat ini Islam sedang di persepsikan sebagai agama teror, agama yang penuh dengan penumpahan darah, dan sebagian orang – sebagian besar diantaranya – benar-benar menganggap Islam sebagai agama yang mengajarkan kebencian antara satu dengan lainnya, antar negara dengan negara lain. Padahal sebaliknya Islam adalah pendukung terbesar perdamaian dan Rasulullah saw adalah pembela terbesar dalam perdamaian sepanjang masa, dalam menyebarkan perdamaian untuk seluruh umat manusia.

Ada dua sumber utama untuk memahami Islam. Yang pertama adalah Al-Qur'an yang merupakan kitab suci Islam, wahyu lisan dari Allah taala yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. yang digambarkan sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia (Q.S. 2:185). Alquran juga telah digambarkan sebagai “rahmah” (Q.S. 16:89) yang berarti rahmat.

Dan yang kedua adalah contoh mulia dari pendiri suci Islam Nabi Muhammad saw (hadits). Beliau saw adalah perwujudan perdamaian dan dinyatakan sebagai personifikasi rahmat bagi seluruh umat manusia (Q.S 21:107). Sayangnya pada kedua sumber tersebut, Alquran dan hadits Nabi Muhammad saw - banyak orang yang belum mengerti sepenuhnya.

Sebagai contoh belum lama ini, Anggota parlemen di Belanda membuat pernyataan bahwa menurut pemahamannya (tentunya ini keliru) setengah dari Alquran harus dibuang ke laut. Mengapa? Dia mengatakan: “Saya percaya bahwa Alquran mengajarkan perang dan kebencian, pertumpahan darah serta terorisme.” Apakah ada tuduhan yang lebih besar yang dikaitkan pada Alquran yang merupakan perwujudan dari ajaran-ajaran damai? Padahal kenyataannya Alquran tidak lain mengajarkan perdamaian, persatuan dan penghormatan terhadap kerukunan hidup antar umat manusia.

Hari ini saya ingin menyajikan beberapa pernyataan dari Alquran untuk mendukung bahwa Alquran sebenarnya adalah pesan perdamaian, jauh dari pesan kebencian, kekerasan dan pertumpahan darah.

Pertama-tama, Alquran telah mengatakan: Tidak ada paksaan dalam urusan agama.” (Q.S 2:256) Ini secara jelas menyatakan bahwa orang-orang dari seluruh dunia benar-benar bebas untuk memilih keyakinan mereka, mana saja yang mereka suka dan senang untuk menjalankannya. Dan dan tak seorangpun di muka bumi ini dengan cara apapun memaksa orang lain untuk menerima Agama Islam. Alquran menyatakan bahwa kebebasaan berkeyakinan adalah hak dasar dari semua manusia. Mereka bisa percaya pada agama apapun yang mereka suka dan mereka dapat menjadi pengikut setiap keyakinan yang mereka yakini.

Alquran menyatakan:

“Inilah hak dari Tuhan-mu ; maka barangsiapa menghendaki, maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki, maka ingkarlah.” (Q.S 18:29)

Begitu tegasnya disebutkan bahwa Islam kebenaran dan dinyatakan bahwa: Orang yang ingin mempercayai - nya biarkan mereka percaya dan mereka yang tidak ingin percaya biarkan mereka menyangkalnya. Tidak ada paksaan dalam berkeyakinan. Orang-orang diberi pilihan bebas.  Jadi Islam tidak memiliki instrumen pemaksaan untuk mengubah keyakinan seseorang agar memeluk Islam.

Hukuman Murtad Dalam Islam

Kemudian muncul pertanyaan bahwa jika seorang muslim ingin meninggalkan Islam apa yang akan terjadi padanya? Ada sebuah kepercayaan keliru yang dihubungkan dengan Alquran, beberapa orang yang sayangnya termasuk orang Islam sendiri, mempunyai pemikiran bahwa Al-Qur'an mengatakan bahwa orang semacam itu harus dipenggal. Padahal kenyataannya justru kebalikan dari itu. Alquran dimanapun tidak pernah menyebutkan bahwa hukuman murtad adalah membunuh orang yang bersangkutan. Alquran menyatakan:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian ingkar, kemudian beriman lagi, kemudian ingkar lagi, kemudian kian bertambah dalam kekufuran, sekali-kali Allah swt. tidak akan mengampuni mereka dan tidak pula akan menunjukkan jalan lurus  kepada mereka. (Q.S. 4:137)

Orang bisa membayangkan bahwa jika hukuman murtad adalah dengan jalan pembunuhan, maka apakah memungkinkan bagi seseorang yang murtad, kembali ke pangkuan Islam untuk kedua kalinya? Jika hukumannya adalah hukuman mati  – seperti yang mereka katakan – maka akan menutup kemungkinan bagi seseorang untuk kembali kepada Islam. Namun Alquran jelas menyatakan bahwa sangat mungkin bagi seorang Islam yang meninggalkan agamanya karena beberapa alasan bisa kembali pada keyakinannya jika ia menginginkannya. Pilihan dan opsi selalu ada disini. Tidak ada hukuman karena kemurtadan dan juga tidak ada paksaan apapun kepada siapa saja untuk menerima Islam.

Menurut Islam, agama adalah masalah pilihan. Jika seseorang senang dengan kebenaran Islam dan mereka puas, tentu saja mereka sangat dipersilahkan dan bergabung dengan Islam. Tetapi jika mereka memutuskan untuk tidak melakukannya, maka tidak ada paksaan dan bahkan jika setelah masuk Islam kemudian mereka ingin pergi, maka merekapun bisa pergi. Allah taala sendiri yang akan menilai hal ini dalam kehidupan yang akan datang tetapi tak seorangpun memiliki kewenangan untuk mengeluarkan hukuman bagi yang murtad.

Hukuman Penghujatan Terhadap Islam

Pertanyaan selanjutnya yang sangat sering ditanyakan adalah hukuman penghujatan dalam Islam. Ini adalah satu hal lagi yang merupakan tuduhan besar dalam menentang Islam. Pertanyaannya adalah bahwa jika seseorang melakukan suatu penghujatan terhadap Allah taala, Rasulullah saw, Alquran atau hal-hal sakral dalam Islam dengan menggunakan bahasa kotor atau menunjukkkan rasa tidak hormat dengan cara apapun, maka apa hukuman untuk itu? Hal ini dikatakan dan diyakini oleh banyak orang termasuk orang Islam sendiri bahwa hukuman bagi penghujatan adalah hukuman mati. Pernyataan seperti itu sama sekali tidak benar.

Alquran sama sekali tidak menyebutkan bahwa hukuman untuk penghujatan adalah hukuman mati bahkan hukuman yang lebih rendah sekalipun. Dan sebenarnya tidak ada hukuman duniawi bagi kejahatan ini. Tidak diragukan lagi, menurut Islam penghujatan merupakan bentuk kejahatan yang sangat tercela dan menyakitkan hati, namun hukuman untuk ini sepenuhnya ada di tangan Allah taala. Allah mungkin akan menghukum pelakunya di kehidupan ini atau di kehidupan akhirat. Kami percaya bahwa setiap orang akan bertanggungjawab di hadapan Allah. Pada hari akhir nanti, Allah yang akan menjadi hakim, tetapi Allah tidak memberi hak kepada siapapun dalam kehidupan ini untuk memberikan hukuman apapun. Saya kutip disini referensi dari Alquran:

“Kamu pasti akan di uji dalam hartamu dan jiwamu, dan pasti kamu akan mendengar banyak hal  yang menyakitkan hati dari orang-orang yang telah diberi Alkitab sebelummu dan dari orang-orang musyrik. Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, maka hal demikian sungguh merupakan urusan keteguhan hati.” (Q.S 3:186)

Tidak ada disebutkan jenis hukuman apapun disini. Allah taala mengatakan bahwa berbagai hal yang menyakitkan akan dikatakan tentang kalian. Seorang Muslim hanya diminta menunjukkan kesabaran ketika mereka mendapatkan penghinaan dengan cara apapun. Tetapi tidak disebutkan bentuk penghukuman apapun terhadap para penghujat.